Beternak Ayam Kampung Petelur (scout).

Pengantar
Ayam kampung boleh dikatakan sebagai ayam asli Indonesia yang sudah dipelihara sejak jaman dahulu. Ayam ini memiliki potensi yang sudah terbukti, mampu member kontribusi bagi pemenuhan kebutuhan keluarga, setidaknya sebagai penghasil daging dan telur. Kebanyakan ayam kampung bersifat dwifungsi, yaitu sebagai penghasil daging dan penghasil telur, dan biasanya tergantung bagaimana tujuan peternak memelihara ayam kampung. Ayam kampung merupakan hasil domestikasi ayam hutan merah selama berabad-abad. Ayam kampung yang ada di Indonesia morfologinya (bentuk-bentuk fisik) sangat beragam, sulit sekali dibedakan dan dikelompokkan ke dalam klasifikasi tertentu. Karena tidak memiliki cirri yang khusus dan tidak adanya ketentuan tujuan dan arah usaha peternakannya, ayam kampung dinamakan juga sebagai ayam buras (bukan ras), untuk membedakan dengan ayam yang sudah jelas tujuan dan arah usahanya, misalnya khusus petelur atau pedaging) yang disebut dengan ayam ras. Produktivitas ayam kampung yang dipelihara secara ala kadarnya memang masih rendah. Produksi telur per tahunnya sekitar 60 butir dan berat badan ayam jantan dewasa tidak melebihi dari 2 kg. Apa lagi ayam betina dan ayam-ayam yang sudah tua maka berat badannya jauh lebih rendah lagi. Namun demikian, bila ayam kampung dipelihara secara benar, tepat dan intensif maka produktivitasnya dapat ditingkatkan, khususnya bila diarahkan untuk petelur.
Menentukan Tujuan
Beternak ayam kampung perlu dipersiapkan beberapa hal, diantaranya adalah penetapan tujuan beternak, apakah sebagai penghasil daging atau penghasil telur. Penentuan tujuan ini penting karena akan menentukan cara memelihara dan manajemennya, termasuk dalam pemilihan induk untuk bibitnya. Selain menentukan tujuan komoditas yang akan diproduksi, penentuan maksud beternak juga penting. Setidaknya ada 3 maksud dan tujuan orang beternak ayam kampung, yaitu beternak hanya sekedar mengisi waktu luang dan beternak sebagai sumber penghasilahan keluarga. Bila beternak hanya untuk mengisi waktu luang, maka kepuasan yang dicapai adalah kepuasan mengisi waktu dengan kesibukan sehari-hari mengurus ternak. Kepuasan tersebut memberikan nilai tersendiri, terutama bagi yang sudah pension. Selain kepuasan tersebut, beternak juga menambah hasil berupa telur atau anak ayam atau daging walaupun ini bukanlah target utama dari beternak. Maksud dan tujuan yang kedua adalah beternak sebagai usaha penghasil pendapatan. Bila tujuan ini sudah ditetapkan maka usaha peternakan ayam kampung yang dijalankan akan menerapkan kaidah-kaidah usaha. Keuntungan berupa ekonomi merupakan target utama yang harus dihasilkan. Kepuasan peternak akan ditentukan dengan seberapa banyak nilai ekonomi yang dihasilkan dari peternakan yang dijalankan.
Penentuan Lokasi
Beternak ayam kampung petelur juga harus memenuhi syarat teknis lokasi sebagaimana beternak ternak lainnya. Bila ternak dipelihara dalam jumlah yang besar maka akan dapat menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitarnya. Gangguan dapat berupa suara ayam, kotoran ayam, pakan dan lalulintas pengangkutan produksi dan sarana produksi. Selain itu, ternak yang dipelihara juga harus memenuhi criteria kenyamanan lingkungan sehingga tidak mudah mengalami stress, mudah terjangkit penyakit dan sebagainya. Syarat-syarat lokasi yang dipillih dalam beternak ayam kampung petelur adalah: 1. Lokasi tidak jauh dari pemasaran hasil dan sumber-sumber factor produksi. Jika keduanya tidak bisa diperoleh secara bersamaan maka yang diutamakan adalah dekat dengan sumber factor produksi. Bila jauh dengan pemasaran, ada kemungkinan pembeli mengambil sendiri ke lokasi peternakan. 2. Lokasi harus jauh dari keramaian, tetapi ada jalur transportasi dan komunikasi. Keramaian akan mengganggu ternak dan sebaliknya. Sedangkan jalur transportasi adalah untuk memudahkan pemasaran hasil dan penyediaan factor produksi. 3. Lokasi seharusnya memenuhi aturan tataguna lahan dari pemerintah daerah setempat. Hal ini perlu karena kawasan akan terus berkembang sesuai dengan peruntukannya. Jangan sapai peternak memilih lokasi yang peruntukkannya ke depan sebagai pusat perkantoran atau pemukima. 4. Lokasi hendaknya mempunyai sumber-sumber air bersih yang cukup, tidak di bawah lembah atau di atas bukit.
Pemilihan Bibit
Sekalipun ayam kampung tidak memiliki ciri khas dalam hal bentuk badan dan warna bulunya, bila dipelihara secara teratur dan terarah, ayam kampung akan memberikan hasil yang cukup baik. Sebaiknya dalam beternak dan mengembangbiakkan ayam kampung petelur ini, terlebih dahulu dilakukan pemilihan/seleksi bibit/induk dengan seksama. Pemilihan bibit dapat dilakukan dengan memilih calon indukan yang sejenis, yaitu bentuk badan seragam, besar kecilnya seukuran dan umurnya tidak terpaut jauh. Sebaiknya calon induk telah berumur paling tidak 7 bulan. Calon bibit tersebut sebaiknya secara turun temurun memiliki sifat-sifat pembawaan yang baik dan sehat, tidak terdapat bagian tubuh yang cacat, berasal dari kelompok atau kawanan ayam yang terpilih, pertumbuhan badannya baik dan hasil telurnya banyak. Calon bibit yang baik memiliki beberapa sifat yang khas. Di antaranya adalah tingkah lakunya yang gembira, gerakannya kuat dan tangkas, tidak taku didekati orang, suaranya agak ramai apabila didekati dan diberi makan, nafsu makannya baik dan aktf mencari makan sepanjang hari, keluar kandang pagi-pagi dan baru masuk kandang setelah matahari terbenam. Ayam yang baik untuk bibit juga berbulu mengkilap dan cerah. Ayam yang sehat dan normal dapat ditilik dengan melihat tanda-tanda fisiknya sebagai berikut: 1. Bagian tubuh. Bangun tubuhnya tidak ada kelainan, selaras dan sesuai dengan jenis ayamnya. 2. Pertulangan. Tulang harus kuat dan normal. 3. Perototan. Otot gempal, padat, berisi dan tidka berlemak. Ini dapat diperkirakan dengan meraba tulang dada dan paha. Cara ini juga dapat diginakan untuk menafsirkan keadaan umum tubuh, eksehatan dan gaya hidup ayam yang bersangkutan. 4. Kulit. Keadaan kulit bila diraba terasa lembut, agak basah, dan tidak ada bagian yang rusak atau cacat. Warnanya segar agak mengkilap. 5. Bulu. Bentuk bulu mencerminkan keadaan kulit, kesehatan dan gaya hidup ayam bersangkutan. Bulu ayam yang haslus letaknya teratur pada tubuh, menghimpit rapat seolah-olah tidak ada ruang kosong diantara bulu-bulu tersebut. Bentuk dan besar bulu harus sesuai dengan jenis puspa ragam dari jenis ayam bersangkutan. Semkain mengkilap maka semakin kuat dan sehat ayam bersangkutan. 6. Suhu badan. Suhu badan normal, sekitar 41-42 oC. 7. Berat badan. Berat badan harus sesuai dengan jenis ayam bersangkutan. 8. Kepala. Kepala berbentuk bulat panjang, tidak terlalu gepeng dan berbangun kasar. Jengger kokoh dan kuat, tidak tipis dan tidak terlalu besar. Warnanya merah menyala, agak mengkilap. Bila dipegang terasa hangat, lentur dan berjaringan halus. Gelang kuping dan daun telinga bentuknya bulat panjang atau jorong, warnanya tegas, tidak suram. 9. Mata. Mata bewrbentuk bulat, agak melotot sedikit, membuka luas kurang lebih di tengah pipi (samping kepala), bebas dari jarigan tubuh yang mengganggu penglihatan. Pemandangan cerah ceria, penuh perhatian, dan gemar melakukan sesuatu. Ghelang mata segar, berwarna kuning kemerah-merahan dan tidak lemah. Selaput lender mata jernih, mengkilap, dan selalu basah. Selaput bening mata jernih dan selalu basah. 10. Leher. Jangan terlalu panjang dan terlalu pendek, kecuali jenis tertentu seperti pelung. 11. Dada. Bentuk dada agak montok ke depan, lebar dan kuat. Leher dan dada harus merupakan satu kesatuan yang kokoh. Tembolok terisi penuh, regang, tapi tidak terlalu keras. 12. Badan dan tubuh bagian belakang. Badan agak panjang, lebar dan dalam. Hal ini menandakan bahwa alat-alat tubuhnya berada pada posisi yang tepat dan seharusnya. Tubuh bagian belakang harus penuh dan dalam. Tubuh belakang ayam yang terbesar terletak terletak di belakang garis melintang antara kedua kaki ayam. Punggung panjang, lebar, dan lurus. Punggung datar, tidak melengkung. 13. Perut penelur. Perut penelur terletak dia natara di belakang garis melintang antara kedua kaki, dengan jarak anatara kedua kaki cukup lebar. Jarak antara ujung utlang dada dan tulang kelangkang sekitar 3 – 4 jari orang dewasa. Perut penelur ini kalau diraba tarasa halus dan lunak seperti beludru, bentuknya bulat cembung. 14. Sayap. Sayap harus normal dan kuat. Tidak boleh tergantung atau terkulai lemah, harus menghimpit tepat pada badan. 15. Dubur. Dubur ayam yang sehat bentuknya lebar, bulat dan basah. Kulit di sekitar dubur tidak berkerut atau berwarna kuning tua, tetapi keputih-putihan dan tidak kotor oleh tahi ayam yang mongering. Bulu di sekitar dubur kering dan bersih. 16. Kaki. Kaki harus kuat dan kokoh. Tidak terlalu besar atau kecil. Jari-jarinya menghampar, dengan bentuk kuku tidak terlalu panjang atau bengkok. Taji tidak panjang tetapi kuat. Sisik kaki menghimpit rata, tersusun teratur, dan keadaannya licin mengkilap. Warna sesuai dengan jenis ayam bersangkutan. 17. Ekor. Ekor terbangun sesuai dengan jenis ayamnya. Bulu pangkal sampai ujungnya tidak cacat.
Perkandangan
Kandang ayam kampung petelur dibuat sesuai dengan kepadatan ayam yang diperlukan. Sehubungan dengan hal itu, beberapa batasan yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: 1. Untuk anak ayam dalam indukan setiap meter persegi cukup 30 ekor. 2. Untuk ayam remaja sebelum memasuki masa bertelur, per meter persegi cukup untuk 14 – 16 ekor, bisa dikurangi sesuai dengan peningkatan umur dan ukuran tubuh. 3. Untuk ayam yang siap dan telah memasuki masa bertelur adalah 6 ekor per meter persegi. Berdasarkan sistem lanatainya, maka kandang ayam kampung dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu kandang sistem lantai liter dan kandang dengan lantai cage. Kandang lantai liter adalah kadang yang lantainya dilapisi denga liter berupa serbuk gergaji atau sekam padi setebal sekitar 6 cm. Sistem ini sebenarnya cocok untuk ayam kampung bibit. Sedangkan sistem lantai cage adalah dengan adanya jarak antara tanah/lantai dengan dasar kandang. Model ini cocok untuk petelur. Pada sistem kedua ini, disebut juga dengan sistem batery, cage dibuat miring ke depan sehingga bila ayam bertelur maka telurnya segera menggelinding kea rah depat yang telah disiapkan tempat penampung telur sehingga petugas dapat dengan mudah mengumpulkan telurnya.
Pakan dan Nutrisi
Pemberian pakan merupakan bagian penting dalam usaha peternakan ayam kampung petelur. Pakan yang diberikan harus memenuhi kebutuhan untuk produksi telur. Untuk itu secara nutrisi harus memenuhi semua yang dibutuhkan. Paling tidak ada 6 kelompok nutrisi yang harus terpenuhi di dalam pakan ayam. Keenam kelompok nutrisi tersebut adalah sebagai berikut. 1. Air. Biasanya ayam mengkonsumsi air sebanyak 2 – 2,5 gram air untuk setiap pakan yang dikonsumsi selama masa awal dan pertumbuhan. Pada masa bertelur (petelur), ayam meminum sebanyak 1,5 – 2 gram air untuk setiap gram pakan yang dikonsumsi. Karena rata-rata ransum ayam yang diberikan mengandung tidak lebih dari 10% air maka penyediaan air minum yang bersih mutlak diberikan secara ad libitum. 2. Protein. Protein merupakan nutrisi utama yang dibutuhkan bagi ayam kampung petelur. Rata-rata kebutuhan protein untuk petelur adalah berkisar antara 16 – 17%. Selain secara kuantitatif, protein pakan juga harus mengandung asam amino yang lengkap, terutama asam amino esensial, yaitu yang tidak dapat disintesis di dalam tubuh ayam. 3. Karbohidrat. Fungsi utama karbohidrat dalam pakan ayam adalah sebagai sumber energy. Biji-bijian sereal dan turunannya merupakan sumber karbohidrat yang baik. 4. Lemak. Ayam petelur memerlukan asam lemak esensial seperti asam linoleat. Selain itu lemak juga menyumbangkan energy bagi ternak. Pada umumya bahan pakan seperti dedak mengandung 2,5% lemak. 5. Mineral. Mineral penting bagi ayam petelur terutama adalah kalsium (Ca), Fosfor (P), Natrium (Na), Magnesium (Mg) dan lain-lain. Mineral-mineral tersebut penting karena terkait dengan pembentukan telur. 6. Vitamin. Vitamin pada umumnya berperan sebagai ko-enzim dan regulator metabolism. Pakan yang defisiensi vitamin akan menurunkan produktivitas telur. Jenis pakan dapat dikelompokkan menjadi 3 tipe berdasarkan periode umur ayam, yaitu: 1. Pakan starter, yaitu pakan yang diberikan untuk DOC hingga berumur 8 minggu dan dalam bentuk remahan (mash). 2. Pakan grower, yaitru diberikan kepada ayam berumur 8 – 20 minggu atau hingga mulai bertelur. 3. Pakan layer, yaitu diberikan untuk ayam periode bertelur.
Manajemen Pemeliharaan
Dalam usaha peternakan ayam kampong dengan tujuan untuk menghasilkan telur, yang penting diperhatikan adalah perihal manajemen. Manajemen ini meliputi pemberian pakan dan minum, kebersihan dan kesehatan kandang, pemanenan dan pemasaran. Manajemen pakan dan minum harus memperhatikan pula kebutuhan nutrisi ayam petelur. Air dan pakan yang diberikan secara ad libitum agar terjamin kebutuhan nutrisinya. Kecukupan akan pakan menghidarkan ayam dari stress dan terjaganya produksi telurnya. Kebersihan dan kesehatan kandang akan membawa ayam pada kondisi nyaman sehingga menhindari stress. Kandang dan lingkungannya yang bersih juga menghidari adanya kontaminasi mikroba, serangan hama dan penyakit ternak. Pemanenan telur yang dihasilkan harus segera untuk menghindari telur kotor akibat tercampur feses atau sisa-sisa pakan pada kandang. Hal ini untuk menjamin mutu telur yang dihasilkan. Namun demikian, pemanenan tidak juga harus terlalu sering karena dapat menyebabkan ayam stress.
BATREI
Fungsi Kandang
Kandang
yang baik dibuat memanjang dari arah Utara ke Selatan dari bahan yang
relatif menyerap panas (atap berwarna muda), murah, dan tersedia cukup.
Kandang merupakan sarana yang terpenting untuk terselenggaranya usaha
peternakan ayam secara intensif. Bagi pengusaha peternakan perlu
memahami arti pentingnya fungsi kandang yang dipaparkan sebagai berikut.
Memberikan
kenyamanan dan melindungi ternak dari panasnya sinar matahari pada
siang hari, hujan, angin, udara dingin dan untuk mencegah gangguan
seperti predator.
Memudahkan
tata laksana yang meliputi pemeliharaan dalam pemberian pakan dan
minum, pengawasan terhadap ayam yang sehat dan ayam yang sakit.
Memudahkan dalam pengambilan telur dan pengumpulan kotoran untuk pupuk kandang.
Syarat Kandang
Syarat-syarat
umum konstruksi kandang ayam ras petelur yang baik dan memenuhi
persyaratan kesehatan bagi kehidupan ayam adalah sebagai berikut.
Dinding kandang tidak rapat, harus merupakan celah-celah yang terbuka, dapat dibuat dari dinding kawat atau jeruji bambu.
Tempat kandang harus kering dan bersih.
Posisi
kandang dibangun menghadap ke arah Timur, agar kandang mendapat cukup
sinar matahari pagi secara langsung dan bila siang hari ayam terhindar
dari panas matahari yang merugikan.
Pertukaran udara dalam kandang harus lancar, sehingga diperlukan ventilasi yang cukup.
Kandang
dibuat cukup tinggi, minimal 3 meter untuk bagian tengahnya. Tinggi
bagian samping minimal 2 meter dan tepi atap panjangnya 1 meter. Lebar
dan panjang kandang dapat disesuaikan dengan kondisi lahan dan jumlah
ayam yang dipelihara.
Atap
kandang dibuat berbentuk huruf A dengan bagian tengah lebih tinggi dan
meluncur ke arah samping (untuk kandang model bateray).
Kandang harus tetap bersih, baik yang di dalam maupun yang di luar kandang.
Bentuk Kandang
Berdasarkan
model konstruksinya, ada tiga bentuk kandang yang dapat digunakan untuk
pemeliharaan ayam ras petelur secara intensif, yaitu sebagai berikut.

Kandang Postal
Merupakan
kandang yang tidak disertai dengan halaman umbaran yang beralaskan
liter, sehingga dalam pemeliharaannya ayam tidak dilepas dan selalu
terkurung sepanjang hari di dalam kandang. Kebutuhan luas kandang per
meter persegi adalah untuk 4-5 ekor ayam. Kelebihan menggunakan model
postal adalah lebih menghemat tempat karena tanpa halaman umbaran,
menghemat biaya, dan pembuangan kotoran lebih mudah. Kelemahannya adalah
pemeriksaan kesehatan terhadap ayam sakit lewat kotoran menjadi sulit,
jika ada ayam yang sakit dapat menular cepat, sering timbul perkelahian,
bila liter dalam keadaan lembab dapat menimbulkan penyakit.
Kandang Ren
Kandang
yang dibangun sebagian merupakan tempat yang tertutup untuk tempat
bertelur dan berteduh, dan sebagian lain adalah tempat yang terbuka yang
dibatasi oleh pagar yang merupakan halaman umbaran. Kepadatan populasi
per meter persegi adalah untuk 1 ekor ayam. Kelebihan model ini adalah
dapat memperoleh sinar matahari pagi. Kelemahannya adalah kurang
ekonomis, produktivitas masing-masing ayam sulit diketahui, bila ada
ayam yang sakit dapat menular dengan cepat.
Kandang Bateray
Merupakan
kandang yang berbentuk sangkar empat persegi panjang yang disusun
berderet-deret memanjang bertingkat dua ataupun bertingkat tiga, dan
setiap sangkar (ruangan) hanya menampung satu ekor ayam. Lantai kandang
merupakan bilah-bilah bambu ataupun kawat yang disusun tidak rapat agar
kotoran ayam dapat langsung jatuh ke tanah. Ukuran luas sangkar kandang
untuk satu ekor ayam adalah panjang 45 cm, lebar 25 – 30 cm dan tinggi
40 – 45 cm. Pintu kandang terletak di bagian muka, pada sisi yang
berukuran 40 – 45 cm x 25 30 cm. Model kandang ini paling sesuai dengan
dan efektif untuk daerah tropis yang panas dan lembab seperti di
Indonesia, serta cocok untuk lahan yang sempit. Pada Gambar 9
digambarkan model kandang sistem bateray.
Beberapa keuntungan kandang model ini adalah sebagai berikut.
- Lebih menghemat tempat dan dapat dibuat bertingkat.
- Produktivitas masing-masing ayam mudah diketahui.
- Pengawasan kesehatan ayam lebih terjamin.
- Penyebaran atau penularan penyakit secara luas dapat dicegah.
- Energi yang dikeluarkan lebih sedikit, sehingga ayam dapat berproduksi maksimal.
- Mencegah kerusakan telur dari pematukan.
- Mencegah terjadinya kanibalisme.
- Memudahkan pemeliharaan seperti pemberian pakan, minum dan lain-lain.
- Memudahkan dalam pengambilan telur.
Beberapa kelemahan pada kandang model ini adalah sebagai berikut.
- Biaya yang dikeluarkan untuk membuat kandang lebih besar.
- Persentase telur pecah lebih tinggi bila alas kandang tidak diberi bahan yang empuk.
- Sering banyak lalat bila kandang sempit dan tertutup, serta terlambat membuang kotoran.
HIDROPONIK
Istilah hidroponik berasal dari istilah
Yunani yaitu hidro yang berarti air dan ponos berarti kerja. Hidroponik
adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan cara bercocok tanam
tanpa tanah tetapi menggunakan air atau bahan porous lainnya dengan
pemberian unsur hara terkendali yang berisi unsur-unsur esensial yang
dibutuhkan tanaman. Dilontarkan pertama kali oleh W.A. Setchell dari
University of California, sehubungan dengan keberhasilan W.F. Gericke
dari university yang sama, dalam pengembangan teknik bercocok tanam
dengan air sebagai medium tanam.
Berdasarkan media tumbuh yang digunakan, hidroponik dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
1. Kultur Air. Teknik ini telah lama dikenal, yaitu sejak pertengahan
abad ke-15 oleh bangsa Aztec. Dalam metode ini tanaman ditumbuhkan pada
media tertentu yang di bagian dasar terdapat larutan yang mengandung
hara makro dan mikro, sehingga ujung akar tanaman akan menyentuh larutan
yang mengandung nutrisi tersebut.
2. Kultur Agregat. Media tanam berupa kerikil, pasir, arang sekam
padi (kuntan), dan lain-lain yang harus disterilkan terlebih dahulu
sebelum digunakan. Pemberian hara dengan cara mengairi media tanam atau
dengan cara menyiapkan larutan hara dalam tangki atau drum, lalu
dialirkan ke tanaman melalui selang plastik.
3. Nutrient Film Technique. Pada cara ini tanaman dipelihara dalam
selokan panjang yang sempit, terbuat dari lempengan logam tipis tahan
karat. Di dalam saluran tersebut dialiri air yang mengandung larutan
hara. Maka di sekitar akar akan terbentuk film (lapisan tipis) sebagai
makanan tanaman tersebut.
Faktor-faktor Penting dalam Budidaya Hidroponik:
1. Unsur Hara.
Pemberian larutan hara yang teratur sangatlah penting pada
hidroponik, karena media hanya berfungsi sebagai penopang tanaman dan
sarana meneruskan larutan atau air yang berlebihan.Hara tersedia bagi
tanaman pada pH 5.5 – 7.5 tetapi yang terbaik adalah 6.5, karena pada
kondisi ini unsur hara dalam keadaan tersedia bagi tanaman. Unsur hara
makro dibutuhkan dalam jumlah besar dan konsentrasinya dalam larutan
relatif tinggi. Termasuk unsur hara makro adalah N, P, K, Ca, Mg, dan S.
Unsur hara mikro hanya diperlukan dalam konsentrasi yang rendah, yang
meliputi unsur Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo, dan Cl.
Kebutuhan tanaman akan unsur hara berbeda-beda menurut tingkat
pertumbuhannya dan jenis tanaman (Jones, 1991).Larutan hara dibuat
dengan cara melarutkan garam-garam pupuk dalam air. Berbagai garam jenis
pupuk dapat digunakan untuk larutan hara, pemilihannya biasanya atas
harga dan kelarutan garam pupuk tersebut.
2. Media Tanam Hidroponik.
Jenis media tanam yang digunakan sangat berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Media yang baik membuat unsur hara
tetap tersedia, kelembaban terjamin dan drainase baik. Media yang
digunakan harus dapat menyediakan air, zat hara dan oksigen serta tidak
mengandung zat yang beracun bagi tanaman. Bahan-bahan yang biasa
digunakan sebagai media tanam dalam hidroponik antara lain pasir,
kerikil, pecahan batu bata, arang sekam, spons, dan sebagainya. Bahan
yang digunakan sebagai media tumbuh akan mempengaruhi sifat lingkungan
media.
Tingkat suhu, aerasi dan kelembaban media akan berlainan antara media
yang satu dengan media yang lain, sesuai dengan bahan yang digunakan
sebagai media. Arang sekam (kuntan) adalah sekam bakar yang berwarna
hitam yang dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna, dan telah
banyak digunakan sabagai media tanam secara komersial pada sistem
hidroponik.
Komposisi arang sekam paling banyak ditempati oleh SiO2 yaitu 52% dan
C sebanyak 31%. Komponen lainnya adalah Fe2O3, K2O, MgO, CaO, MnO, dan
Cu dalam jumlah relatif kecil serta bahan organik. Karakteristik lain
adalah sangat ringan, kasar sehingga sirkulasi udara tinggi karena
banyak pori, kapasitas menahan air yang tinggi, warnanya yang hitam
dapat mengabsorbsi sinar matahari secara efektif, pH tinggi (8.5 – 9.0),
serta dapat menghilangkan pengaruh penyakit khususnya bakteri dan
gulma.
3. Oksigen.
Keberadaan Oksigen dalam sistem hidroponik sangat penting. Rendahnya
oksigen menyebabkan permeabilitas membran sel menurun, sehingga dinding
sel makin sukar untuk ditembus, Akibatnya tanaman akan kekurangan air.
Hal ini dapat menjelaskan mengapa tanaman akan layu pada kondisi tanah
yang tergenang. Tingkat oksigen di dalam pori-pori media mempengaruhi
perkembangan rambut akar.
Pemberian oksigen ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti:
memberikan gelembung-gelembung udara pada larutan (kultur air),
penggantian larutan hara yang berulang-ulang, mencuci atau mengabuti
akar yang terekspose dalam larutan hara dan memberikan lubang ventilasi
pada tempat penanaman untuk kultur agregat.
4. Air.
Kualitas air yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman secara hidroponik
mempunyai tingkat salinitas yang tidak melebihi 2500 ppm, atau
mempunyai nilai EC tidak lebih dari 6,0 mmhos/cm serta tidak mengandung
logam-logam berat dalam jumlah besar karena dapat meracuni tanaman.
Keuntungan dan Kendala Hidroponik
Beberapa kelebihan bertanam secara hidroponik adalah produksi tanaman
persatuan luas lebih banyak, tanaman tumbuh lebih cepat, pemakaian
pupuk lebih hemat, pemakaian air lebih efisien, tenaga kerja yng
diperlukan lebih sedikit, lingkungan kerja lebih bersih, kontrol air,
hara dan pH lebih teliti, masalah hama dan penyakit tanaman dapat
dikurangi serta dapat menanam tanaman di lokasi yang tidak mungkin/sulit
ditanami seperti di lingkungan tanah yang miskin hara dan berbatu atau
di garasi (dalam ruangan lain) dengan tambahan lampu. Sedangkan
kelemahannya adalah ketersediaan dan pemeliharaan perangkat hidroponik
agak sulit, memerlukan keterampilan khusus untuk menimbang dan meramu
bahan kimia serta investasi awal yang mahal.

Teknik Budidaya
A. Media.
Media hidroponik yang baik memiliki pH yang netral atau antara 5.5
-6.5. Selain itu media harus porous dan dapat mempertahankan kelembaban.
Media yang digunakan dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan tahap
pertumbuhan tanaman :
1. Media untuk persemaian atau pembibitan. Untuk persemaian dapat
digunkan media berupa pasir halus, arang sekam atau rockwool. Pasir
halus sering digunakan karena mudah diperoleh dan harganya murah, namun
kurang dapat menahan air dan tidak terdapat nutrisi di dalamnya. Media
yang biasa digunakan adalah campuran arang sekam dan serbuk gergaji atau
serbuk sabut kelapa.
2. Media untuk tanaman dewasa. Media untuk tanaman dewasa hampir sama
dengan media semai, yaitu pasir agak kasar, arang sekam, rockwool dan
lain-lain. Media yang ideal adalah arang sekam. Keuntungannya adalah
kebersihan dan sterilitas media lebih terjamin bebas dari kotoran maupun
organisme yang dapat mengganggu seperti cacing, kutu dan sebagainya
yang dapt hidup dalam pasir. Media arang sekam bersifat lebih ringan
namun lebih mudah hancur, penggunaannya hanya dapat untuk dua kali
pemakaian. Arang sekam dapat dibeli di toko-toko pertanian atau membuat
sendiri.
B. Benih.
Pemilihan benih sangat penting karena produktivitas tanaman
teranganutng dari keunggulan benih yang dipilih. Periksa label kemasan
benih, yaitu tanggal kadaluarsa, persentase tumbuh dan kemurnian benih.
Pemilihan komoditas yang akan ditanam diperhitungkan masak-masak
mengenai harga dan pemasarannya. Contoh sayuran eksklusif yang mempunyai
nilai jual di atas rat-rata adalah tomat Recento, ketimun Jepang,
Melon, parika, selada, kailan, melon dan lain-lain.
C. Peralatan Budidaya Hidroponik.
1. Wadah semai, bisa menggunakan pot plastik, polybag kecil, bak
plastik, nampan semai, atau kotak kayu (Wadah tanaman dewasa, umumnya
digunakan polybag berukuran 30-40 cm dengan lobang secukupnya untuk
mengalirkan kelebihan air saat penyiraman).
2. Kertas tissu/koran basah untuk menjaga kelembaban.
3. Ayakan pasir untuk mengayak media semai.
4. Handsprayer untuk penyiraman.
5. Centong pengaduk media, pinset untuk mengambil bibit dari wadah semai.
6. Polybag ukuran 5 kg untuk penanaman transplant, benang rami
(seperti yang sering digunakan tukang bangunan) untuk mengikat tanaman,
dan ember penyiram.
D. Pelaksanaan.
1. Persiapan media semai. Sebelum melakukan persemaian, sempuran media semai diaduk dahulu secara merata.
2. Persemaian tanaman.
a. Persemaian benih besar. Untuk benih yang berukuran besar seperti
benih melon dan ketimun, sebaiknya dilakukan perendaman di dala air
hangat kuku selama 2-3 jam dan langsung ditanamkan dalam wadah semai
yang berisi media dan telah disiram dengan air. Benih diletakkan dengan
pinset secara horisontal 4-5 mm dibawah permukaan media. Transplanting
bibit dari wadah semai ke wadah yang lebih besar dapat dilakukan ketika
tinggi bibit sekitar 12-15 cm (28-30 hari setelah semai).
b. Persemaian benih kecil. Untuk benih berukuran kecil seperti tomat,
cabai, terong dan sebagainya cara persemaiannya berbeda dengan benih
besar. Pertama siapkan wadah semai dengan media setebal 5-7 cm. Di
tempat terpisah tuangkan benih yang dicampurkan dengan pasir kering
steril secukupnya dan diaduk merata. Benih yang telah tercampur dengan
pasir ditebarkan di atas permukaan media semai secara merata, kemudian
ditutup dengan media semai tipis-tipis (3-5 mm). Setelah itu permukaan
wadah semai ditutup dengan kertas tisu yang telah dibasahi dengan
handsprayer kemudian simpan di tempat gelap dan aman.Wadah semai
sebaiknya dikenakan sinar matahari tip pagi selama 1-2 jam agar
perkecambahan tumbuh dengan baik dan sehat. Setelah benih mulai
berkecambah, kertas tisu dibuang. Setelah bibit mencapai tinggi 2-3 cm
dipindahkan ke dalam pot/polybag pembibitan.
3. Perlakuan semai. Bibit kecil yang telah berkecambah di dalam wadah
semai perlu disirami dengan air biasa. Penyiraman jangan berlebih,
karena dapat menyebabkan serangan penyakit busuk.
4. Pembibitan. Setalah bibit berumur 15-17 hari (bibit yang berasal
dari benih kecil) perlu dipindahkan dari wadah semai ke pot/polybag
pembibitan agar dapat tumbuh dengan baik. Caranya adalah dengan mencabut
kecambah di wadah semai (umur 3-4 minggu setelah semai) secara
hati-hati dengan tangan agar akar tidak rusak kemudian tanam pada lubang
tanam yang telah dibuat pada pot/polybag pembibitan.
5. Transplanting/pindah tanam. Sebelum dilakukan pindah tanam, perlu
dilakukan persiapan media tanam, yaitu dengan mengisikan media tanam ke
polybag. Sebaiknya pengisian dilakukan di dekat lokasi penanaman di
dalam green house agar sterilitas media tetap terjaga. Setelah wadah
tanam siap dan dibuatkan lubang tanam, maka transplanting siap
dilakukan. Transplanting dilakukan dengan membalikkan pot pembibitan
secara perlahan-lahan dan menahan permukaannya dengan jemari tangan
(bibit dijepit diantara jari telunjuk dan jari tengah). Jika pada
pembibitan digunakan polybag, maka cara transplanting bisa dilakukan
dengan memotong/menggunting dasar polybag secara horisontal.
6. Penyiraman. Penyiraman dilakukan secara kontinu, dengan indikator
apabila media tumbuh dipegang dengan tangan terasa kering. Meida tanam
hidroponik bersifat kering sehingga penyiraman tanaman jangan sampai
terlambat. Jenis dan cara penyiraman adalah sebagai berikut:
a. Penyiraman manual. Penyiraman dilakukan dengan handsprayer,
gembor/emprat atau gayung. Cara penyiramannya adalah sebagai berikut :
1) Pada masa persemaian. Cara penyiraman untuk benih berukuran kecil
cukup dengan handsprayer 4-5 kali sehari untuk menjaga kelembaban media.
Untuk benih berukuran besar digunakan gembor/emprat berlubang halus
atau tree sprayer.
2) Pada masa pembibitan. Penyiraman dilakukan dengan gembor dilakukan
sebanyak 5-6 kali sehari dan ditambahkan larutan encer hara.
3) Pada masa pertumbuhan dan produksi. Penyiraman dilakukan dengan memeberikan 1.5-2.5 l larutan encer hara setiap harinya.
b. Penyiraman otomatis. Penyiraman dapat dilakukan dengan Sprinkle
Irrigation System dan Drip Irrigation System, yaitu sistem penyiraman
semprot dan tetes . Sumber tenaga berasal dari pompa.
7. Perawatan Tanaman. Perawatan tanaman yang perlu dilakukan antara lain adalah :
a. Pemangkasan. Pemangkasan dilakukan untuk membuang cabang yang
tidak dikehendaki, tunas air, atau cabang yang terkena serangan
penyakit. Pemangkasan dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan dan
produksi tanaman. Misal pada tomat recento hanya dipelihara satu batang
utama untuk produksi.
b. Pengikatan. Tanaman yang telah berada di wadah tanam selama 7 hari
memerlukan penopang agar dapat berdiri tegak sehingga tanaman dapat
tumbuh rapi dan teratur. Penopang tersebut diberikan dengan cara
mengikat tanaman dengan tali (benang rami).
c. Penjarangan bunga (pada sayuran buah). Penjarangan bunga perlu
dilakukan agar pertumbuhan buah sama besar. Namun hasil penelitian
penjarangan bunga pada ketimun Gherkin tidak menunjukkan hasil yang
berbeda dengan perlakuan tanpa penjarangan bunga.
d. Pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian dapat dilakukan baik secara manual maupun dengan pestisida.
8. Panen dan Pasca panen.
a. Pemanenan. Dalam pemanenan perlu diperhatikan cara pengambilan
buah/ hasil panen agar diperoleh mutu yang baik, misalnya dengan
menggunakan alat bantu pisau atau gunting panen. Cara panen yang benar
dan hati-hati akan mencegah kerusakan tanaman yang dapat mengganggu
produksi berikutnya. Kriteria panen masing-masing jenis sayuran
berlainan satu sama lainnya dan tergantung dari pasar. Makin besar buah
belum tentu makin mahal/laku, malah termasuk kriteria buah afkir
sehingga waktu panen yang tepat dan pengawasan pada proses produksi
perlu diperhatikan.
b. Penanganan pasca panen. Pemasaran produk hasil budidaya hidroponik
sangat dipengaruhi oleh perlakuan pasca panen. Standar harga penjualan
produksi tergantung dari menarik atau tidaknya produk yang dihasilkan,
terutama dilihat dari penampilan produk (bentuk, warna, dan ukuran).
Perlakuan pasca panen sangat penting karena kualitas produk tidak
semata-mata dari hasil produksi saja, melainkan sangat tegantung dan
ditentukan oleh penanganan pasca panen, kemasan, sistem penyusunan,
metode pengangkutam maupun selektivitas produk. Kerusakan produk dapat
dikurangai dengan penanganan pasca panen yang tepat sehingga diharapkan
dapat meningkatkan nilai tambah pada produk yang dijual.
HIDROPONIK
merupakan
metode bercocok tanam tanpa tanah. Bukan hanya dengan air sebagai media
pertumbuhannya, seperti makna leksikal dari kata hidro yang
berarti air, tapi juga dapat menggunakan media-media tanam selain tanah
seperti kerikil, pasir, sabut kelapa, zat silikat, pecahan batu karang
atau batu bata, potongan kayu, dan busa.
Mungkin,
bagi sebagian besar orang tidak akan percaya di antara ratusan tomat
yang dimakan tidak tumbuh di atas tanah melainkan di air. Seperti
percobaan yang yang dilakukan salah satu bapak hidroponik,
Dr.W.F.Gericke dari Universitas California pada tahun 1930-an. Latar
belakang Gericke meneliti sistem hidroponik ini, karena ia melihat luas
tanah di sekelilingnya terasa semakin menciut untuk ditumbuhi berbagai
tanaman.
Hasil penelitiannya yang mudah dan praktis ini pun cepat diketahui se-antero
Amerika. Bahkan tentara-tentara Amerika yang dinas di pulau-pulau
gersang dan terisolasi pun ikut menumbuhkan tanaman sayuran di ruang
tertentu dengan menggunakan sistem hidroponik. Begitu pula di Jepang,
yang didirikan segera setelah Perang Dunia II berakhir untuk persediaan
makanan bagi tentara pendudukan Amerika.
Sejak
saat itu, banyak dibuat unit hidroponik yang berskala besar di Meksiko,
Puerto Rico, Hawaii, Israel, Jepang, India, dan Eropa. Dan lebih
kompleks lagi, hidroponik dijadikan sebagai bisnis besar dan
diselenggarakan projek riset terhadapnya, juga banyak berdiri
perusahaan-perusahaan yang menaruh perhatian pada bidang bercocok tanam
paling logis di bumi dengan penduduk yang terus bertambah.
Menurut
Nicholls (1986), semua ini dimungkinkan dengan adanya hubungan yang
baik antara tanaman dengan tempat pertumbuhannya. Elemen dasar yang
dibutuhkan tanaman sebenarnya bukanlah tanah, tapi cadangan makanan
serta air yang terkandung dalam tanah yang terserap akar dan juga
dukungan yang diberikan tanah dan pertumbuhan. Dengan mengetahui ini
semua, di mana akar tanaman yang tumbuh di atas tanah menyerap air dan
zat-zat vital dari dalam tanah, yang berarti tanpa tanah pun, suatu
tanaman dapat tumbuh asalkan diberikan cukup air dan garam-garam zat
makanan.
Manipulasi
yang dapat dilakukan selain perlakuan di atas adalah pengontrolan.
Dengan perawatan rutin (sehari hanya memakan waktu maksimal 20 menit),
kita dapat menikmati bermacam buah-buahan, sayur-sayuran, dan
rempah-rempah tanaman obat.
Metode
hidroponik “mengizinkan” orang-orang yang tinggal di rumah dengan
halaman yang sempit dan juga mahasiswa yang bertempat di tempat kos
untuk menikmati buah dari tangan dingin di tempat sendiri. Karena, ya…
itu tadi, tidak perlu tanah! Keuntungan yang diperoleh pun cukup
berlimpah. Pada bidang tanah yang sempit dapat ditumbuhi lebih banyak
tanaman dari yang seharusnya. Lantas hasil tanaman buah dapat menjadi
lebih masak dengan cepat dan lebih besar. Air dan pupuk dapat lebih awet
karena dapat dipakai ulang. Nicholls (1986) menambahkan pula,
hidroponik memungkinkan kita untuk mengatur tanaman lebih teliti dan
menjamin hasil yang baik dan seragam.
**
SETELAH
ribuan tahun manusia menetap di muka bumi, dan seiring waktu yang terus
berjalan, dunia makin kecil dengan bertambahnya populasi bumi yang
melaju cepat. Tidak dapat dibayangkan jika Tuhan tidak memberi kita otak
atau akal… apa yang akan terjadi dengan dunia? Tanah makin sedikit,
banyak yang dirombak untuk dibangun rumah-rumah masyarakat. Populasi
tumbuhan pun semakin berkurang.
Di
sisi lain, sekarang sedang maraknya bioteknologi di berbagai bidang,
salah satunya bidang pertanian. Setelah melakukan berbagai penelitian,
bioteknologi merupakan satu jalan menuju kesejahteraan manusia mengingat
lahan pertanian Asia yang semakin kecil. Adapun tanaman-tanaman yang
berhasil dimutasikan gennya (transgenik) adalah kapas, jagung,
buah-buahan yang memang menjadikan kualitasnya lebih baik, tahan hama
penyakit, dan hasilnya pun lebih banyak. Namun bioteknologi tidak
semulus kelihatannya, banyak pihak, terutama dari perkumpulan lingkungan
hidup semacam Greenpeace, percaya tanaman transgenik justru akan mengembangkan virus penyakit yang lebih kebal.
Adanya
bahaya hipotetik pada tanaman kapas, dan seperti yang dikatakan
Setyarini (2000), jagung transgenik akan dimakan hewan unggas. Dalam
rantai makanan, unggas tersebut akan dimakan manusia. Yang sangat
dikhawatirkan adalah dalam unggas tersebut terdapat genetically modified organism (GMO) yang efeknya cukup riskan dalam tubuh manusia.
Masalah
lainnya adalah potensinya dalam mengganggu keseimbangan lingkungan
antara lain serbuk sari jagung di alam dapat mengawini gulma-gulma liar,
sehingga menghasilkan gulma unggul yang sulit dibasmi.
Meskipun
tanaman transgenik memiliki kehebatan yang menakjubkan, berkualitas
tinggi, kebal terhadap serangan hama hingga petani tidak perlu
menyemprot pestisida, serta meningkatkan swasembada pangan tanaman, dan
sebagainya, namun kita tetap harus mempertimbangkan kemungkinan besar
lain, yang tidak kalah penting hingga berpengaruh terhadap keseimbangan
alam dan kesehatan kita. Karena hal ini pun, sepertinya metode
hidroponik merupakan alternatif paling aman. Dan mungkin hidroponik ini
tidak akan menarik jika sistem tanah memiliki kualitas yang baik,
konsisten, dan semua penanaman cukup berinteraksi dengan tanah.
Tinggal
dalam apartemen yang paling kecil sekalipun tidak menutup kemungkinan
kita dapat menanam bunga, buah, dan sayur-sayuran. Untuk mencapainya
dapat dilakukan dengan sistem hidroponik dalam pot yang kecil-kecil.
Intinya, saat ini bercocok tanam dengan hidroponik menjadi alternatif
paling realistis jika hidup di kota.
Jika
kita sudah menaruh perhatian untuk menumbuhkan tanaman dengan
hidroponik, pengontrolan adalah hal yang penting dilakukan. Komposisi
pupuk, pemberian insektisida yang cukup (meskipun tak perlu yang manjur,
karena hama penyakit tanaman dari tanah tidak ada atau sedikit saja di
media bukan tanah), kesterilan media dan pengairan secara teratur harus
disorot. Namun pada hidroponik juga memiliki kelemahan, apalagi jika
mengabaikan sistem pengontrolan. Menanam di udara terbuka mendatangkan
persoalan baru yaitu kondisi cuaca yang selalu berubah.PR, Rabu, 13 juni 2012
abirohmatabialmascout.